Daddio Film yang bergenre dewasa ini sangat cocok untuk ditonton bagi kalangan orang-orang yang sudah memiliki pikiran terbuka karena memiliki makna yang sangat mendalam hingga membuat film ini layak untuk ditonton bagi para pencari jati diri.
Sinopsis Film “Daddio” (2024)
Daddio mengisahkan perjalanan perempuan muda bernama Girlie, diperankan oleh Dakota Johnson, yang baru saja mengalami tragedi dalam hidupnya. Mencari pelarian dan ketenangan, ia memutuskan untuk pergi ke New York City.

Setibanya di Bandara John F. Kennedy, Girlie menaiki taksi yang dikendarai oleh seorang sopir bernama Clark, yang diperankan oleh Sean Penn. Sepanjang perjalanan menuju Manhattan, keduanya terlibat dalam percakapan mendalam tentang kehidupan, cinta, dan kehilangan, yang kemudian membentuk inti dari cerita film ini.
Review “Daddio” (2024)
Film “Daddio” ini gampang-gampang susah untuk disukai para penonton karena dengan durasi kurang lebih 100 menit cuma dengerin orang ngomong. Dalam Film ini mereka saling membicarakan hal-hal yang random di dalam taksi, tapi obrolan mereka bukan tanpa alasan.
Setengah dari film ini lumayan terasa agak membosankan karena terlalu banyaknya dialog. Tetapi meskipun begitu Daddio tetap memiliki keunggulan yaitu keberagaman topik. mulai dari Parenting, kehilangan, cinta, perselingkuhan, pertemanan, karier, digitalisasi.

Film ini berhasil menyajikan alur dengan santai sembari menggali masa lalu kedua tokoh utama, obrolan ngalor ngidul ini banyak benarnya ketimbang omong kosong.
Dakota Johnson dengan beragam ekspresinya menyajikan feels emosi yang luar biasa. Senyumnya, cara mengekspresikan ketidaknyamanan terhadap sebuah kata, kegalauannya saat chat dengan “L” hingga kekagetan saat background-nya dibaca lawan bicara adalah daya tarik.
Di sisi lain, ada Sean Penn yang konsisten membalas lawan bicara berdasarkan pengalamannya. Performa aktor peraih 2 Piala Oscar ini jalan tentu sudah tidak perlu diraguka lagi.
Chemistry keduanya adalah segalanya dalam film ini. Skenario buatan Christy Hall pada beberapa titik memang terkesan amburadul. Khususnya pada bagian membahas sensitivitas usia perempuan dan romansa ketika memasuki kepala tiga.

Banyak hal yang tidak dijelasin di film ini, namun apakah tapi mungkin itu memang esensi yang ingin dibuat oleh penulisnya? Dari Daddio kita bisa mengambil kesimpulan agar hidup jangan cuman hidup. Setiap orang punya masalah dan berjuang untuk tetap punya nilai.
Saat ditimpa masalah, jangan lantas menjadi kapal karam. Kuncinya tetap bernapas, menolak tenggelam, bergerak ke atas hingga melihat cahaya dan warna. Dengan begitu, kita akan baik-baik saja. Skor film ini 4/5.













