Sinopsis
Pengepungan di Bukit Duri bercerita tentang Edwin seorang guru keturunan Tiongkok yang masuk ke sekolah buangan untuk mengajar. Karena diskriminasi ras dan kekerasan yang sudah mendarah daging, Edwin diincar oleh murid-muridnya sendiri sebagai korban berikutnya.

Film yang berani
Film ke-11 dari Joko Anwar ini bisa dibilang sangat berani. Mulai dari penulisan dialog, adegan kekerasan sampai isu yang diangkat. Melalui film ini Joko Anwar membuktikan kalau film bukan cuma sekadar menghibur tapi bisa sebagai platform untuk mengkritik dan refleksi. Dengan tema yang diangkat film ini jadi terasa relatable dengan kondisi negara yang juga sedang tidak baik-baik saja.

Diskriminasi dan Budaya Kekerasan
Dalam film ini Joko Anwar memberikan kita sebuah gambaran Indonesia di latar distopia yang kehidupannya sangat sengsara akibat terjangkit diskriminasi dan kekerasan. Meskipun elemen tersebut dilebih-lebihkan untuk mengangkat intensitas filmnya, tapi kita sebagai penonton merasa relate dengan apa yang sedang terjadi di dunia ini sekarang.
Kekerasan pun ditunjukkan dengan begitu mengerikan. Beberapa kali Simin bahkan ga berani ngeliat adegan kekerasan/gore yang dilakukan oleh karakter-karakter di film ini.
Akting Spektakuler dari Main Cast
Para main cast bener-bener all out di film ini. Semua memerankan perannya dengan sangat baik sehingga semua adegan baik drama, action sampai komedi nyaris ga ada yang miss.
Pastinya Morgan Oey dan Omara Esteghlal jadi yang paling menonjol. Karakter mereka berdua lah inti dari konflik di film ini. Morgan sangat menjiwai seorang guru yang tough, dan ber-nurani. Sedangkan performa Omara Esteghlal sebagai Jefri – murid bermasalah yang punya dendam pribadi ke karakter Edwin, bener-bener GILA. Penggambaran karakter yang dihidupkan oleh Omara ngasih teror luar biasa. Karakternya sudah terlalu jauh sampai-sampai rela melakukan apa aja demi membunuh Edwin. Pokoknya performa Omara di sini juara banget!

Intensitas Tinggi
Sebagai film thriller, Pengepungan di Bukit Duri berhasil memberikan ketegangan di tiap scene. Dari yang cuma adu dialog panas sampai adegan kejar-kejaran, film ini berhasil bikin kita duduk ga nyaman di kursi bioskop. Situasi terjebak yang dialami Edwin pun ikut bikin kita takut, apakah mereka bisa keluar dari sekolah itu?

Pengembangan Karakter yang Ga Begitu Keliatan
Terlepas dari banyaknya pujian ke film ini ada beberapa yang menurut Simin kurang diperhatikan. Yang pertama pengembangan karakter yang minim banget. Di film ini kayaknya Simin ga merasa karakter-karakternya belajar sesuatu yang signifikan. Mungkin memang pada dasarnya film ini lebih condong ke social study bukan fokus ke karakternya.
Kemudian ada beberapa momen antar karakter yang ga berakhir kemana-mana. Ada suatu momen karakter Edwin dikasih love interest, tapi sampai akhir film momen tersebut ternyata ga ada ujungnya.
Pengepungan di Bukit Duri berhasil menyajikan tontonan dengan intensitas tinggi. Performa para cast yang solid dan dunia yang mengerikan berhasil membuat kita berpikir dan merefleksikan masa depan kita dan negara kita. We’re just one bad day away from making this movie a reality. Don’t let it happen.













