Sinopsis Film Petaka Gunung Gede (2025)
Film ini mengisahkan pengalaman mistis dua sahabat yang diangkat dari kisah nyata, Maiia yang diperankan oleh Arla Arliani dan Ita yang diperankan oleh Adzana Ashel, yang memutuskan untuk mendaki Gunung Gede bersama beberapa teman mereka.
Namun, Ita sedang dalam kondisi haid saat pendakian, yang menurut kepercayaan masyarakat sekitar merupakan pantangan besar. Mitosnya, wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan mendaki agar tidak mengganggu makhluk penunggu gunung.

Review Petaka Gunung Gede (2025)
Petaka Gunung Gede mencoba menghadirkan ketegangan dan dramatisasi lewat sebuah cerita yang diambil dari kisah nyata oleh Maiia Azka, namun pada kenyataannya, film ini hanya sekadar mengandalkan premis besar tanpa memperhatikan substansi naratif dan kualitas produksi yang memadai. Meskipun latar belakang Gunung Gede menawarkan potensi visual yang luar biasa, film ini gagal memanfaatkannya secara maksimal, membuatnya terasa lebih seperti film yang terjebak dalam formula yang sudah usang.

Petaka Gunung Gede memiliki potensi besar dengan latar Gunung Gede yang indah, namun gagal memanfaatkan keindahan alam tersebut secara maksimal. Efek alam terasa dangkal dan tidak memberikan dampak dramatis yang seharusnya bisa digali lebih dalam lagi.
Karakter-karakter dalam film ini juga sangat klise dan kurang berkembang. Performa dari Ashel sendiri dirasa masih terlalu kaku, tapi chemistry persahabat yang berusaha dibangun oleh kedua tokoh utama yaitu Maya dan Ita, direalisasikan dengan bagus oleh Arla dan Ashel.
Plot yang lambat dan terlalu bergantung pada kemunculan setan menciptakan ketegangan yang kurang mendalam, ditambah dengan konklusi klise yang mengurangi intensitas cerita.
Film ini terjebak dalam formula cerita kesurupan yang sudah sering kita lihat, tanpa adanya twist atau elemen baru yang mengejutkan. Dialog-dialognya terasa canggung dan mudah ditebak, membuat banyak adegan terasa datar. Dari segi teknis, kualitas visual dan CGI yang biasa saja membuat pengalaman menonton terasa kurang menegangkan, terutama pada momen puncak yang seharusnya dramatis.

Secara keseluruhan, Petaka Gunung Gede masih memiliki banyak aspek yang bisa diperbaiki, seperti pengembangan karakter yang terasa dangkal, plot stagnan, dan kualitas produksi yang kurang memadai. Film ini dirasa kurang memanfaatkan potensinya dan cenderung mudah dilupakan karena kekurangan teknis maupun naratif.
Skor untuk film ini 5/10.













