Beberapa tahun terakhir, film horor Indonesia sering jadi bahan obrolan di media sosial. Tapi ada satu judul baru yang muncul dengan energi berbeda: Dia Bukan Ibu (2025). Ceritanya diadaptasi dari utas horor viral di X karya Jeropoint dan hasilnya ternyata bukan sekadar “thread jadi film”, tapi pengalaman menegangkan yang bikin penonton merinding.

Horor yang Bermain di Psikologis
Kalau biasanya horor lokal mengandalkan jump scare, Dia Bukan Ibu memilih jalur lain. Randolph Zaini sebagai sutradara lebih banyak bermain di ranah psikologis: trauma keluarga, krisis identitas, sampai perubahan drastis seorang ibu yang tiba-tiba menunjukkan perilaku aneh. Anak-anaknya mulai ragu, “Apakah ini masih ibu yang sama?” Pertanyaan itu yang perlahan merayap ke kepala penonton juga.
Yang bikin makin ngeri, film ini diperankan cast ternama, termasuk Artika Sari Devi. Dari trailer saja, adegan kejar-kejaran dengan “ibu” sudah cukup bikin merinding.

Simbolisme yang Punya Makna Ganda
Zaini nggak hanya fokus bikin penonton terkejut, tapi juga menebar simbol-simbol yang terasa menempel lama setelah film selesai. Ada kucing yang jadi penanda, senyum sang ibu yang tampak manis tapi terasa mengancam, hingga elemen “susu” yang ternyata mengandung makna lebih dalam. Semua itu bukan sekadar dekorasi seram, melainkan bagian dari eksplorasi identitas dan gambaran tentang sosok ibu. Seseorang yang seharusnya memberi rasa aman, tapi justru berubah jadi sumber ketakutan.
Festival Internasional & Respon Penonton
Nggak cuma heboh di Indonesia, Dia Bukan Ibu juga berhasil menembus kancah internasional. Film ini diputar di Fantastic Fest 2025 di Texas, Amerika Serikat, dalam program Next Wave Competition. Responsnya cukup mengesankan: kursi penuh saat premiere, tepuk tangan, dan banyak pujian untuk akting Artika Sari Devi. Dia berhasil menampilkan sosok ibu yang awalnya hangat lalu berubah menyeramkan dengan transisi halus tapi mengerikan.

Dia Bukan Ibu lagi tayang di bioskop!. Kalau bosen dengan horor klise, film ini jelas nggak boleh dilewatkan. Selain seram, ada lapisan cerita tentang keluarga, trauma, dan identitas yang membuatnya terasa lebih membekas.













