Di tengah ramainya film-film superhero yang makin hari makin seragam, One Battle After Another (2025) muncul sebagai kejutan. Gak hanya berani secara visual dan naratif, film ini juga terasa relevan secara sosial bahkan agak menohok. Disutradarai Paul Thomas Anderson, film ini bukan sekadar tontonan penuh ledakan dan dialog tajam, tapi juga refleksi tajam atas dunia yang (mungkin) nggak begitu jauh dari kenyataan sekarang.

Antara Negara Polisi, Demo Jalanan, dan Trauma Lama
Cerita film ini berpusat pada Bob Ferguson (diperankan Leonardo DiCaprio), seorang mantan revolusioner yang kini hidup dalam paranoia, dibayangi ketergantungan obat, dan tinggal bersama putrinya, Willa. Ketika Willa menghilang dan musuh lama Bob muncul kembali, keduanya masuk ke dalam perjalanan penuh kekacauan dan kejujuran brutal soal siapa mereka sebenarnya.
Apa yang bikin film ini menarik adalah latarnya Amerika versi dystopia, di mana kekuasaan militeristik memegang kendali, warga sipil diawasi, dan imigran jadi target. Sebuah negara demokrasi yang kehilangan wajah manusianya.
Anderson bilang kalau cerita ini sebenarnya bisa saja terjadi di mana saja di masa lalu, masa depan, bahkan di luar angkasa karena tema tentang kekuasaan, kehilangan, dan perjuangan melawan sistem yang menindas itu sifatnya universal.

Jangan salah sangka, meskipun temanya berat, film ini nggak melulu muram. Anderson bermain-main dengan dark-comedy secara cerdas. Ada momen ketika absurditas situasi justru bikin kita senyum. Humor muncul bukan untuk bikin ringan, tapi untuk menegaskan betapa kacaunya dunia yang dibangun dalam film ini.
Di sisi lain, adegan aksinya juga gak asal tempel. Intens, tapi tetap punya bobot emosional. Bukan cuma nonton orang baku hantam, tapi juga bisa ngerasain luka-luka yang gak kelihatan.
20 Tahun di Kepala Sutradara
Menariknya lagi, proyek ini ternyata udah lama banget nangkring di kepala Paul Thomas Anderson. Awalnya ia ingin mengadaptasi novel Vineland karya Thomas Pynchon, tapi seiring waktu, idenya berkembang ke berbagai arah sampai jadi film yang sekarang kita tonton.
Butuh dua dekade dan kata Anderson sendiri banyak frustrasi kreatif buat akhirnya bikin dunia yang kompleks ini terasa hidup. Dan hasilnya? Sebanding.

Produksi Gede, Hasil Memuaskan
Dengan budget di angka US$130–175 juta, ini jadi proyek paling ambisius Anderson sejauh ini. Tapi jelas terlihat kemana uang itu mengalir. Desain set yang megah, sinematografi yang solid, sampai efek visual yang gak pernah lebay tapi selalu efektif.
Dan tentu saja, Leonardo DiCaprio tampil luar biasa. Banyak kritik bilang ini salah satu performa terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. Karakter Bob bukan cuma rumit, tapi juga sangat manusiawi.













