Yogyakarta, 30 November 2025 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun ini hadir perdana di JAFF Market 2025. JAFF Market adalah pasar film pertama dan terbesar di Indonesia yang diselenggarakan untuk mempertemukan para pelaku industri perfilman, baik lokal maupun internasional. Kota Jakarta, dalam misinya menuju ‘The City of Cinema’ aktif menciptakan peluang kolaborasi untuk meningkatkan antusiasme sineas nasional dan internasional untuk menjadikan Jakarta sebagai kota pilihan produksi filmnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan, melalui forum ini Pemprov DKI Jakarta ingin menyerap aspirasi para pelaku industri perfilman, memperkuat jejaring profesional, dan sekaligus belajar dari negara-negara lain untuk menciptakan kebijakan yang relevan dengan kebutuhan nyata para pembuat film. Langkah ini sekaligus menjadi bukti komitmen Jakarta dalam memperkuat fondasi ‘The City of Cinema’ sebagai bagian dari transformasi menuju kota global yang kreatif dan kompetitif.
Menurut Rano Karno, kota Jakarta telah konsisten membangun ruang-ruang yang ramah bagi penikmat film. Perjalanan sejarah budaya perfilman Jakarta sudah menempuh jalan yang panjang dan matang, dimulai dari pendirian bioskop pertama Indonesia di Tanah Abang, berkembang melalui kemunculan film-film berlatar kota Jakarta, hingga menjadi basis bagi lembaga penting seperti PT Produksi Film Negara (PFN), Taman Ismail Marzuki (TIM), hingga Pusat Perfilman Usmar Ismail. Dominasi Jakarta sebagai pusat industri film juga kini semakin dikuatkan oleh fakta bahwa 80% dari 141 rumah produksi nasional berlokasi di wilayah Jakarta.

Besarnya potensi pasar domestik juga menjadi pendukung kuat dari fasilitas yang tersedia, lebih dari 30 juta penduduk Jabodetabek menjadi basis audiens film yang sangat besar dan potensial. Adapun data nasional menyebutkan ada 122 juta jumlah penonton bioskop pada 2024, yang menjadi angka tertinggi sepanjang masa. Dari jumlah tersebut, lebih dari 65% atau sekitar 80 juta penonton menyaksikan film lokal. Hal ini menunjukkan dominasi kualitas film lokal di pasar domestik.“Dari berbagai peluang ini, kami juga terus mengembangkan aktivasi untuk mewujudkan Jakarta sebagai ‘The City of Cinema’ dengan melakukan berbagai langkah kolaboratif, mulai dari partisipasi di berbagai film market, kerja sama dengan rumah produksi, hingga penyelenggaraan Jakarta Film Week,” ujar Rano Karno.
Kesempatan ini dimanfaatkan Pemprov DKI Jakarta untuk berkolaborasi dan membuka dialog strategis dengan berbagai pemangku kepentingan industri film. Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) Edwin Nazir, memandang inisiatif ‘The City of Cinema’ sebagai peluang besar bagi Jakarta untuk menjadi pusat pasar dan talenta perfilman. “Jakarta memiliki potensi besar dalam penyediaan fasilitas proses produksi. Tapi sebagai produser, kami masih menghadapi banyak kendala perizinan dan birokrasi. Kami apresiasi inisiatif pemerintah Kota Jakarta dalam mempersiapkan Komisi Film Jakarta, harapannya entitas ini menjadi pusat layanan terpadu dan dapat mendukung para pembuat film dan komunitas dalam berkarya,” tuturnya.

Sebagai informasi, Komisi Film Jakarta sudah dipersiapkan selama setahun kebelakang. Sebagai langkah awal, Jakarta Experience Board (JXB), salah satu BUMD Jakarta, menjadi inisiator peluncuran website filminginjakarta.co.id untuk mempromosikan lebih dari seribu lokasi syuting menarik di Jakarta. Website ini akan menjadi bukti konkret komitmen Pemprov Jakarta dalam mempermudah segala proses produksi, sekaligus memberikan informasi lengkap mengenai insentif diskon yang tersedia.
Dalam kesempatan yang sama, Komedian dan Filmmaker Ernest Prakasa optimis bahwa penerapan sistem single gateway untuk proses produksi film di Jakarta akan sangat mempermudah kerja para pembuat film. “Jika proses birokrasi dipermudah, sutradara bisa fokus pada hal yang lebih penting, yakni memotret denyut Jakarta dan menjadikannya otentik serta padu dengan cerita,” pungkasnya.
Produser dan CEO Ideosource Entertainment Andi Boediman turut memberikan pandangannya terhadap potensi Jakarta sebagai pusat investasi industri film. “Riset saya menunjukkan bahwa pertumbuhan industri film Indonesia berjalan cepat, tetapi masih terhambat oleh koordinasi kebijakan yang tersebar di banyak lembaga. Pembentukan Komisi Film Jakarta menjadi langkah strategis karena dapat menyediakan satu titik koordinasi yang jelas untuk pendanaan, perizinan, dan pengembangan ekosistem. Dengan model yang terintegrasi, komisi ini dapat mempercepat investasi, meningkatkan akses produksi di setiap tahap rantai nilai produksi film, serta membuat Jakarta lebih kompetitif sebagai pusat industri kreatif di kawasan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Pemprov DKI Jakarta, melalui Jakarta Experience Board (JXB), juga melakukan penandatanganan Letter of Intent (LOI) dengan JAFF Market, yang menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam merangkul JAFF Market sebagai mitra strategis di industri perfilman untuk mewujudkan Jakarta sebagai ‘The City of Cinema’.
JAFF Market Director Linda Gozali mengatakan, “Kemitraan ini akan menempatkan Film pada titik strategis yang harapannya akan membangun kepercayaan sineas nasional dan internasional melalui beragam program terintegrasi, salah satu caranya dengan memanfaatkan Filming in Jakarta sebagai program yang siap membuka kesempatan kolaborasi dan pada akhirnya, Pemprov DKI Jakarta akan menjadi “financial and distribution” hub dalam ekosistem perfilman kita,” kata Linda Gozali.

Direktur Utama PT Jakarta Tourisindo / Jakarta Experience Board (JXB) Yunn Bali Mohammad Yusuf menegaskan bahwa MoU ini menjadi wujud implementasi langsung dari visi Jakarta ‘The City of Cinema’. “JXB siap menjadi fasilitator utama yang menjamin kemudahan logistik dan akses lokasi bagi para mitra produksi. Melalui kerja sama ini, kami memastikan bahwa Jakarta tidak hanya indah di layar, tetapi juga efisien di lapangan, sehingga menjadi model percontohan yang mendorong pembentukan Komisi Film Jakarta.”
“Kerja sama dengan JAFF Market adalah langkah esensial dari upaya pengembangan regulasi ‘The City of Cinema’. Jakarta tidak hanya menjanjikan kemudahan, tetapi juga menghadirkan pasar dan modal di depan para investor dan filmmaker. Ini adalah cara kami memastikan ‘The City of Cinema’ berjalan secara berkelanjutan dan berdampak nyata terhadap ekonomi Jakarta, maupun nasional. Keterlibatan ini secara langsung meningkatkan kredibilitas Jakarta sebagai pusat produksi film di Indonesia, bahkan Asia Tenggara,” tutup Rano Karno.













